Rabu, 31 Oktober 2012

SEJARAH ISLAM DI TANAH MANDAR

A. Masuknya agama Islam di Tanah Mandar
Pada abad ke-17 agama Islam telah masuk ke tanah mandar, saat itu pemerintahan di Wilayah Tanah Mandar masih berbentuk kerajaan. Diantaranya ada 2 kerajaan besar di Tanah Mandar pada masa itu yaitu kerajaan Binuang dan Kerajaan Balanipa. Awal penyebaran agama Islam di mulai dari daerah Kerajaan Binuang, yang disebarkan oleh seorang musafir bangsa arab yang berlabuh di kawasan Kerajaan Binuang
Dalam penyebaran agama Islam di Tanah Mandar saat itu tidak mendapatkan kesulitan berat, karena kebudayaan yang ada pada saat itu sudah berbau Islam. Sehingga agama Islam yang disebarkan diterima dengan baik oleh masyarakat terutama dari pihak kerajaan yang berkuasa pada saat itu. Berikut ini merupakan beberapa pendapat atau paham yang diperoleh dari beberapa nara sumber yang mengetahui mengenai sejarah masuknya agama Islam di Tanah Mandar :
Pendapat Abdullah ( Tokoh adat Balanipa )
Mengatakan bahwa asal mula penyebaran agama Islam datang dari Arab dan tiba di Wilayah Tanah Mandar Daerah Toma’ngalle, pada abad ke-17 (Toma’ngalle itu nama pada abad 17 dan sekarang diberi nama tammangalle ). Yang dibawah oleh seorang musafir yang bernama Kamaruddin Rahim.
Setelah beliau berada di Tamangalle, beliau menyebarkan agama Islam. Saat beliau melakukan shalat 5 ( lima ) waktu diatas batu yang berbentuk kasur, Beliau dilihat oleh warga sekitar dan melaporkan kejadian tersebut kepada raja Balanipa, kemudian beliau dijemput dan dibawa ke Kerajaan Balanipa. Arayang pada saat itu adalah Daetta’ Tummuanae (Raja ke-IV Kerajaan Balanipa). Ketika berada di wilayah Kerajaan Balanipa Beliau memutuskan untuk memilih tempat yang pedalaman agar lebih mudah untuk menyebarkan agama islam. Wilayah pada saat itu disebut Pallis, Raja dipallis pada saat itu Kannasunan. Dan pertama masuk islam pada saat itu adalah raja Pallis ( kannasunan ).
Pendapat Pundi (Tokoh Masyarakat Daerah Lambanan)
Mengatakan bahwa agama Islam mulanya dibawa oleh seorang berbangsa Arab dan tiba diwilayah mandar pada abad ke 17, Beliau bernama Kapar. Beliau menyebarkan agama islam di tanah mandar bersama dengan To Salama di daerah Goa (Yusuf). Perayaan hari besar Islam di Balanipa tidak akan terlaksana apabila Yusuf tidak ada. Hal ini dikarenakan saat itu Yusuf bertindak sebagai khatib di Balanipa dan Beliaulah yang mengajarkan tentang tata cara sebagai khatib.
Namun setelah beliau kembali ke Goa, Beliau digantikan oleh muridnya yaitu Sopu Gus Diris yang dikuatkan dengan diberikannya sebuah SK sebagai bukti pelimpahan wewenang sebagai khatib tanggal 5 Januari 1952 di Madjene.
Kapar (To Salama di Binuang) menyebarkan agama islam di Balanipa pada masa kepemimpinan Raja ke-IV, Tomatindo di Burio yang merupakan keturunan dari Torilaling (raja pertama). Islam berkembang luas di daerah Balanipa dikarenakan oleh adanya dukungan penuh dari raja yang berkuasa.
Penyebaran agama Islam pada masa itu terjadi secara berangsur-angsur dikarenakan sebuah kepercayaan baru yang datang pada suatu wilayah tentunya tidak akan langsung dapat diterima begitu saja. Sebelum Islam masuk, masyarakat Mandar menganut kepercayaan animisme yang banyak di pengaruhi oleh agama Budha dan Hindu dalam melakukan praktek-praktek penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan dalam penyelesaian perselisihan atau sengketa di Tanah Mandar, kerajaan Balanipa memiliki 2 (dua) lembaga hukum yaitu:
1. Lembaga 1(Balanipa)
Dimana bala bararti sebuah kandang dan nipa adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang dijadikan bahan dalam pembuatan kandang tempat pertaruangan duel tikam menikam tersebut (berkelahi dalam kandang sampai salah satunya tewas, dan tewas dinyatakan bersalah sedangkan yang hidup dinyatakan benar).
2. Lembaga II (merendam tangan di air mendidih)
Yaitu mereka yang bersengketa merendam tangan di air mendidih (siapa yang lebih dahulu mengangkat tangannya maka ia lah yang bersalah).
Secara psikologis, 2 (dua) lembaga peradilan tersebut adalah untuk mempermudah penetapan hukum. Namun setelah Islam masuk dan diterima baik oleh masyarakat, khususnya pihak Kerajaan. Hukum yang dijalankan pada masa itu berangsur-angsur berubah dengan aturan-aturan yang ada di ajaran Islam.
Pendapat Arifin (Penjaga Makam Syaeh Bil Ma’ruf)
Menyatakan bahwa Islam masuk ke Tanah Mandar pada Abad ke-17 dibawa oleh Rahim Kamaruddin (Syaek Bil Ma’ruf), yang berasal dari Arab, Beliau tiba di Kerajaan Binuang dengan satu tujuan menyebarkan Islam di Tanah Mandar.
Ketika Beliau melaksanakan shalat, ada penduduk yang melihat, dan langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Raja. Rajapun menemui Syeik Bil Ma’ruf untuk menanyakan siapa, dari mana, dan tujuan beliau datang ke Binuang. Kemudian Syeik Bil Ma’ruf menjelaskan maksud dan tujuannya yaitu menyebarkan Agama Islam. Awalnya Raja tidak percaya dan meminta bukti-bukti.
Beberapa bukti yang beliau perlihatkan diantaranya :
1. Berjalan di atas air
2. Memegang bara api
3. Shalat di atas daun pisang
4. Berjalan di atas pohon kelapa
Setelah melihat bukti-bukti tersebut, Raja percaya dan memeluk agama Islam, kemudian diikuti oleh para pejabat dan seluruh masyarakat.
Dari tiga pendapat diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa pembawa agama islam di Tanah Mandar memiliki nama yang berbeda – beda dari tiap wilayah. Namun setelah dilakukan penelitian dapat disimpulkan bahwa pembawa agama Islam yang pertama kali ditujukan hanya pada satu orang yaitu tosalama’ di Binuang.
B. Penyebaran Islam di Mandar
Penyebaran Islam di Tanah Mandar di mulai pada abad ke-17, oleh seorang musyafir bangsa Arab yang bernama Kamaruddin Rahim (Syaek Bil Ma’ruf). Awal penyebarannya Beliau menyebarkan agama Islam di Wilayah Kerajaan Binuang, Ketika beliau melaksanakan sholat diatas batu yang berbentuk kasur, Beliau dilihat oleh warga sekitar dan melaporkan pada raja Binuang. Lalu beliau dijemput untuk dibawa ke Raja Binuang. Setelah menghadap raja beliau menjelaskan maksud dan tujuannya. Hal tersebut diterima baik oleh pihak kerajaan dan diikuti oleh seluruh masyarakat
Setelah Islam diterima di kerajaan Binuang, Kamaruddin Rahim (Syaek Bil Ma’ruf) memutuskan untuk melanjutkan perjalanan untuk menyebarkan agama Islam, diantaranya Majene dan Mamuju. Dalam perjalanan (berlayar), Beliau mendapatkan hambatan dilaut yaitu salah arah menuju ke Balanipa. sehingga beliau memberi nama tempat itu Salahbose’. Dan pada saat itu pula beliau memutuskan untuk singgah di Balanipa, diwilayah Toma’ngalle (Toma’ngalle itu nama pada abad 17 dan sekarang diberi nama tammangalle ) untuk menyebarkan agama Islam.
Ketika beliau melakukan sholat, diatas batu yang berbentuk kasur. Beliau dilihat oleh warga sekitar dan melaporkan pada raja Balanipa, lalu beliau dijemput untuk dibawa ke Balanipa. Arayang pada saat itu daetta’ tummuanae (raja ke empat )
Setelah tiba dikerajaan, beliau memutuskan untuk memilih tempat yang pedalaman agar lebih mudah untuk menyebarkan agama islam. wilayah pada saat itu disebut Pallis, Raja dipallis pada saat itu Kannasunan. Dan pertama masuk islam pada saat itu adalah raja Pallis ( kannasunan ).
Pada awal beliau melakukan syiar Islam di Balanipa beliau tidak langsung mengajarkan Islam pada inti pokoknya yaitu mengenai tata cara shalat. Melainkan dengan menjelaskan tahap awal, mulai dari tata cara memberihkan diri, lalu berwhudu, kemudian tata cara shalat. Pada masa penyebaran Islam di Balanipa tidak begitu mendapat hambatan karena prilaku masyarakat setempat sudah mencerminkan prilaku Islam, Selain itu juga Kamaruddin Rahim memang berperilaku baik dan sopan saat berkunjung dan bersilaturahmi sehingga langsung diterima oleh masyarakat setempat.
Proses penyebaran Islam banyak dilakukan dengan cara mengislamkan kebiasaan-kebiasaan daaerah setempat contohnya tradisi Sayyang Patu’du yaitu kuda yang menari, pertama kali digunakan oleh Raja dan dijadikan daya tarik untuk masyarakat khususnya anak-anak untuk mempelajari agama Islam terutama dalam mempelajari Al-Qur’an.
Setelah Islam menyebar di Balanipa, Beliau kembali ke Binuang dengan alasan karena tugas beliau telah selesai, dan setelah beberapa hari kemudian beliau wafat. Sebelum beliau dimakamkan terjadi peristiwa hujan lebat selama tiga hari tiga malam. Saat itu kalangan kerajaan sangat pusing memikirkan letak pemakaman Syaek Bil Ma’ruf. Banyak yang mengusulkan tempat pemakaman beliau, tetapi setelah disebutkan salah satu tempat yaitu daerah Ammasangan hujan seketika berhenti. Kemudian Raja memutuskan untuk memakamkan jasad to Salama di Ammasangan yang sekarang bernama Pulau Salama.
Dibawa ini adalah dokumentasi tosalama’ di Binuang (Syaek Bil Ma’ruf) atau dikenal Kamaruddin Rahim :
A. Perkembangan Agama Islam di Mandar
Islam masuk ke Mandar dengan jalan damai pada abat 17 masehi, pengaruh Islam mengalami perkembangan sekitar pada abad 18 masehi. Penyebaran islam dilakukan dengan didahului para pemimpin kerajaan yang ada ditanah Mandar. Dimulai dari ajaran membersikan diri sampai kepada tatanan atau aturan dalam beribadah.
Masuknya Islam ditanah Mandar banyak mempengaruhi kebudayaan lokal. Dalam bidang aturan dalam kepemimpinan, kehidupan, dan masih banyak lagi. Berikut ini beberapa contoh perkembangan islam di berbagai kerajaan yang ada di Tanah Mandar :
1. Pada masa kerajaan Balanipa
Kerajaan ini terletak di Kabupaaten Polman, Sulawesi Barat. Kerajaan ini adalah kerajaan yang terbesar yang ada di Tanah Mandar, yang mempunyai pengaruh yang sangat besar di Tanah Mandar. Dan sistem pemerintahan di Balanipa pada saat itu dilakukan secara turun temurun atau dari genersi ke generasi.
Perkembangan agama Islam pada masa kepemimpinan Raja ke-4 (empat), memanfaatkan pemerintahannya untuk mengembangkan agama islam, dengan ditandai dengan berdirinya sebuah tempat ibadah (mesjid) yang pada awal mulahnya dikenal Langgar (yang dikenal di Sumatra dengan kata surau) dimana digunakan sebagai tempat mengajar ajaran agama Islam. Masjid yang pertama di Tanah Mandar terletak di Pallis atau yang dikenal saat ini sebagai Desa Lembang dan masjid yang kedua didirikan di Desa Tangga – taangga Kecamatan Tinambung, yang sekarang lebih dikenal sebagai masjid Raja.
Masjid kedua ini berdiri hasil dari perpindahan mesjid pertama dengan membawa empat tiang dan meninggalkan/menyisahkan kepala mesjid yang dalam bahasa daerah disebut Coppo’ masigi.
2. Pada Masa Kerajaan Binuang
Kerajaan ini terletak di kabupaaten Polman, sulawesi barat atau yang dekat dengan perbatasan Sul – Sel . Kerajaan ini adalah kerajaan yang nomor 2 terbesar yang ada di Mandar, yang mempunyai kerjasama dengan Kerajaan Balanipa, baik dalam perekonomian, budaya, dan lain – lain. Dan sistem pemerintahan di Binuang pada saat itu dilakukan secara turun temurun atau dari genersi ke generasi.
Dikerajaan Binuang adalah tempat dimana wafatnya Syaek Bil Ma’ruf (Kamaluddin rahim). Pada waktu itu makam beliau dijadikan tempat ziarah para umat muslim. Ketika pada abad 18 masehi, yang berkuasa di Goa (Sul – Sel) adalah islam Muhammadia. Islam Muhammadia ini tidak sepakat makam Kamaluddin Rahim (Tosalama’ Binuang) dijadikan tempat siarah. Lalu dia mengambil tindakan untuk menghancurkan makam tersebut, dengan membuang batu – batu nisannya ke laut. Setelah selesai dibuang batu nisan itu kembali posisi semula. Jadi makam itu tidak diganggu lagi hingga saat ini.

Kamis, 28 Juni 2012

Sulbar Kirim 25 Guru ke AS 2013

Mamuju (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, berencana mengirim 25 tenaga guru ke Amerika Serikat (AS) tahun 2013, dalam rangka peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia di wilayah itu.

"Tahun depan kita akan mulai merekrut guru tenaga pendidik yang ada di sekolah baik jenjang pendidikan SLTA sederajat maupun SMP sederajat, "kata Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sulbar, Jamil Barambangi di Mamuju, Kamis.

Menurut dia pengirimiman tenaga guru ke AS ini merupakan tindak lanjut kerja sama antara Pemprov Sulbar dengan pemerintah Amerika Serikat untuk peningkatan kualifikasi tenaga pendidik di provinsi terbungsu ini.

"Rencana pengiriman tenaga guru ini telah kita bicarakan dengan pihak Konsulat Jenderal AS Kristen F Bauer, yang membawahi wilayah Indonesia bagian timur saat berkunjung ke Sulbar beberapa bulan lalu," kata dia.

Hanya saja kata Jamil, ada kendala pengiriman tenaga guru di Sulbar ke luar negeri karena kebanyakan guru belum menguasai bahasa asing.

"Kemanpuan berbahasa asing bagi tenaga guru di Sulbar menjadi kendala sehingga diharapkan tenaga pendidik yang akan menempuh pendidikan di AS mampu menguasai dasar-dasar bahasa asing,"tuturnya,
Jamil menyampaikan sebanyak 25 tenaga guru yang akan dikirim ke AS pada tahun 2013 yang diharapkan dapat berjalan lancar.

"Kualifikasi tenaga guru menjadi perhatian pemerintah sehingga kerja sama dengan AS ini menjadi harapan baru untuk memperbaiki kualitas tenaga pendidikan yang ada di Sulbar. Ke depan tenaga guru harus mampu berinteraksi dengan alat tekhnologi," katanya. (KR-ACO/Z003)

Senin, 25 Juni 2012

Sesditjen PAUDNI: Tak Ada Lagi Dikotomi PAUD Formal dan Nonformal

BANDUNG � Perubahan numenklatur struktur Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Ditjen PNFI) menjadi Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Ditjen PAUDNI) membawa pengaruh membesarnya cakupan garapan, termasuk di dalamnya dengan bergabungnya TK (taman kanak-kanak) dalam satu payung.

�Itu berarti tidak ada lagi dikotomi PAUD formal dan PAUD informal. Jadi, sekarang ini keduanya satu payung dibawah Direktorat Pembinaan PAUD. Hal ini perlu disosialisasikan kepada masyarakat sehingga di lapangan semuanya paham. Ini menjadi tugas kita bersama termasuk organisasi mitra Ditjen PAUDNI,� tegas Sekretaris Ditjen PAUDNI, Gutama saat membuka Rakor PAUDNI dengan Mitra Ditjen PAUDNI di Bandung, Senin (25/7).

Dalam kesempatan itu, dia meminta organisasi mitra yang terdiri atas tim penggerak PKK, Kowani, GOPTKI, Aisyiah, Muslimat NU, Himpaudi, Badan Koordinasi Organisasi Wanita, IGTKI, Himpunan Penyelenggara Kursus dan Pelatihan Indonesia dan unsur dinas pendidikan, yang diwakili Kabid Pendidikan Nonformal dan Informal, turut mensosialisasikan perubahan numenklatur tersebut sehingga tidak ada kasalahpahaman di masyarakat.

Menurut Gutama, kebijakan dan program Ditjen PAUDNI sebagus apapun tanpa bantuan organisasi mitra tidak akan berarti apa-apa, tidak akan berjalan sesuai harapan bila tidak dibantu masyarakat atau stake holdernya.

�Karena itu, kami berharap tim penggerak PKK, Kowani, GOPTKI, Aisyiah, Muslimat NU, Himpaudi, Badan Koordinasi Organisasi Wanita, IGTKI, Himpunan Penyelenggara Kursus dan Pelatihan Indonesia dan instansi atau lembaga lain yang selama ini telah bekerjasama dengan Ditjen PAUDNI, tetap konsisten membantu mengimplementasikan program-program PAUDNI. Sebab, organisasi mitra Ditjen PAUDNI ujung tombak di lapangan,� tandasnya.

Sesditjen PAUDNI mengemukakan, seiring dengan bergabungnya TK PAUD ke depan PAUD lebih dikembang lagi. Jadi, di lapangan masyarakat yang memiliki PAUD kalau bisa mengembangkan TK. Begitu juga sebaliknya, bagi masyarakat yang sudah mendirikan TK dikembangkan lagi dengan menyelenggarakan Kelompok Bermain (KB), TPA (Taman Penitipan Anak) dan Satuan PAUD Sejenis yang jumlahnya sangat beragam.

�Pemerintah menargetkan angka partisipasi kasar (APK) PAUD pada 2015 mendatang diharapkan mencapai 75 persen. Target atau sasaran tersebut dapat tercapai bila ada dukungan dari masyarakat, yaitu organisasi mitra dan dinas pendidikan setempat. Apalagi, pemerintah juga menargetkan tepat 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045, PAUD ini menjadi potensi. Sebab, anak PAUD sekarang pada tahun tersebut akan menjadi generasi di masa depan, generasi yang andal,� tegasnya.

Karena itu, tambah Sesditjen PAUDNI, Gutama, pemerintah saat ini memberikan berbagai terobosan tidak saja peserta didik yang menjadi garapan, tapi juga orangtua yang memiliki anak PAUD. �Kita bidik dengan program parenting. Jadi, orangtua anak PAUD juga kita didik bagaimana mendidik anak yang benar,� paparnya.

Jadi, ujarnya, orangtua khususnya kaum ibu bukan saja pendidik pertama, tapi juga pendidik utama dalam keluarga. Karena itu, peran ibu sangat besar dan menentukan generasi kita di masa mendatang. Peran ibu juga sangat penting dan berat mengingat saat ini tantangan di lingkungan keluarga begitu banyak. Mulai dari siaran televisi, buku cabul, CD porno dan situs yang tidak bertanggungjawab. Untuk itu, ibu jangan sampai kecolongan.

Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Sesditjen PAUDNI, I Gde Panca mengemukakan, secara umum pencapaian target nasional program di lingkungan Ditjen PAUDNI menunjukan kemajuan yang cukup baik.

�Hal itu dapat dilihat dari indikasi menurunnya angka buta aksara bagi penduduk berusia di atas 15 tahun, tertampungnya lulusan program kecakapan hidup di dunia kerja, meningkatnya jumlah tenaga pendidik PAUDNI yang berkualifikasi pendidikan, meningkatnya kepedulian gender dalam lingkungan pendidikan,� ujarnya.(mulia)

Selasa, 08 Mei 2012

Sulbar Bangun Pembangkit Energi Listrik Tenaga Mikro Hidro di 128 Desa

Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat membangun Pembangkit Energi Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) pada 128 desa mandiri energi di wilayah itu.

"Potensi energi listrik terbarukan di Sulbar sangat melimpah ruah. Makanya, kita tidak sulit untuk membangun PLTMH dengan memanfaatkan aliran sungai dengan menggunakan turbin produksi lokal sehingga kita telah mampu menghadirkan energi listrik yang tersebar pada 128 desa dari lima kabupaten di Sulbar," kata Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh saat menghadiri acara panen raya buah kakao di Desa Batu Empat, Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju, Selasa.

Menurutnya, pembangunan PLTMH pada 128 desa di Sulbar tersebar di lima Kabupaten, berkat jasa Ir Linggih, seorang ilmuwan yang merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, tahun 1992.

Gubernur menyampaikan, Linggih merupakan putra kelahiran Mamasa yang kini telah melatih masyarakat yang ada di desa terpencil yang tidak memiliki listrik seperti di Kabupaten Mamasa untuk mengenal ilmu pengetahuan tentang teknik membuat PLTMH dengan memanfaatkan sungai.

"Ilmuwan peraih penghargaan desa mandiri energi tahun 2008 yang bukan sarjana teknik tersebut awalnya menguji coba Sungai Batanguru di Kabupaten Mamasa, untuk membuat PLTMH sederhana untuk kebutuhan listrik terhadap 300 kepala keluarga di Desa Batanguru dan akhirnya berhasil," katanya.

Oleh karena itu kata Anwar, pemprov Sulbar akan terus mengembangkan PLTMH bagi desa-desa yang belum mendapat layanan listrik dari PLN.

Termasuk kata dia, pemprov Sulbar akan membantu masyarakat Desa Batu Empat untuk membangun PLTMH karena daerah ini belum mendapatkan pelayanan listrik dari PLN.

"Tahun ini kita akan membangun PLTMH di Desa Batu Empat minimal bisa tuntas tahun ini. Jika nantinya pembangunan rampung maka saya akan datang kembali meresmikan pemanfaatan PLTMH di desa ini,"ucapnya.

Dengan demikian, kata dia, pembangunan PLTMH di Sulbar tahun ini telah mencapai 129 desa energi Mandiri.

Berkat keberhasilan ini kata gubernur maka pemerintah pusat akan menetapkan provinsi terbungsu ini menjadi provinsi penghasil energi terbarukan.

"Tahun ini pusat akan menepatkan sebagai provinsi penghasil energi terbarukan. Ini semua berkat jasa saudara Linggi yang mampu membuat turbin dengan memanfaatkan aliran sungai," katanya.(Iwn/Ant)

Gubernur Janjikan Pembangunan Jalan Tani di Papalang

Gubernur Sulawesi Barat, H.Anwar Adnan Saleh, kembali menjanjikan pembangunan jalan tani di Desa Batu Empat Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju, guna mendukung peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah itu.

"Potensi pertanian dan perkebunan di Desa Batu Empat khususnya kakao sangat cerah. Sayangnya, kondisi infrastruktur jalan di desa ini masih buruk sehingga perlu segera dibangun jalan tani untuk kepentingan masyarakat di desa ini,"kata Gubernur Anwar Adnan Saleh saat berdialog dengan petani kakao di Papalang, Mamuju, Selasa.

Menurut gubernur, akses jalan yang buruk akan berdampak terhadap gairah ekonomi bakal tidak efektif. Karena itu, setelah pemerintah merekam keluh kesah petani serta kondisi yang terjadi maka tidak ada alasan untuk tidak membangun jalan tani di daerah ini.

"Saya kesini bukan memberikan janji karena ada kepentingan politik. Tetapi, selaku pemimpin harus melihat apa yang menjadi kebutuhan rakyat,"kata dia.

Karena itu kata gubernur, anggota DPRD dan para kepala dinas untuk sering-sering turun memantau merekam apa yang menjadi kebutuhan paling mendesak bagi masyarakat di desa tersebut.

Sebelumnnya, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulbar Hamzah, dana pembangunan jalan tani di Sulbar telah mencapai Rp1,4 miliar. Dana itu diperoleh dari alokasi anggaran pemerintah pusat pada 2012.

Menurut dia, dengan dibangunnya jalan usaha tani di Mamuju, maka petani yang masih sulit menjangkau areal pertanian akan lebih mudah dan dapat memaksimalkan pemasaran hasil produksi.

Secara keseluruhan anggaran pembangunan jalan usaha tani yang dialokasikan pemerintah pusat untuk Provinsi Sulbar yang memiliki lima kabupaten sekitar Rp4 miliar.

Menurut dia, jalan tani yang akan dibangun di Sulbar dengan menggunakan anggaran itu adalah jalan tani di wilayah terpencil yang selama ini sulit dijangkau pada lima kabupaten.

"Untuk di Desa Batu Empat belum bisa langsung dilaksanakan pembangunan jalan tani karena belum tercantum dalam usulan anggaran 2012. Jalan tani di Desa Batu Empat baru dapat dilaksanakan pada tahun anggaran 2013 baik melalui APBD maupun APBN,"pungkasnya.(Iwn/Ant)

Gubernur Sulbar Pantau Korban Bencana Banjir Mamuju

Gubernur Sulawesi Barat, H.Anwar Adnan Saleh, memantau kondisi korban bencana banjir bandang yang meluluhlantahkan puluhan rumah warga yang bermukim di bantaran sungai Mamuju.


"Saat bencana banjir terjadi saya masih berada di Jakarta dan baru saat ini bisa menyempatkan diri melihat langsung kondisi korban banjir yang terjadi Jumat (4/5) di Kawasan Taman Sapi Kelurahan Mamunyu," kata Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh di Mamuju, Selasa.
Gubernur mengatakan, meski baru bisa menyempatkan melihat kondisi korban namun dirinya selalu memantau dari jarak jauh dan telah memerintahkan Dinas Sosial dan Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) turun tangan.

"Pemerintah langsung tanggap dengan memberikan bantuan terhadap korban termasuk menurunkan tim Tagana untuk membantu masyarakat korban banjir,"kata dia.

Ia mengatakan, akibat banjir bandang yang menyapu puluhan pemukiman juga telah merusak akses jalan jembatan gantung yang menghubungkan dua dusun yakni dusun Sangkurio dan dusun So'do.

"Bantuan pangan telah kita serahkan kepada korban banjir. Yang menjadi masalah serius yang harus ditangani cepat adalah membangun akses jalan jembatan gantung yang putus saat banjir bandang terjadi,"kata dia.

Karena itu kata gubernur, pembangunan jembatan gantung ini harus secepatnya tertangani atau paling lama satu bulan dari sekarang.

"Akses jalan yang menghubungkan dua dusun ini harus segera kita tangani. Apalagi, akses ini satu-satunya jalan untuk memperlancar kegiatan ekonomi masyarakat,"ungkap dia.

Saat ini kata dia, masyarakat dusun Sangkurio hanya mengandalkan perahu karet milik Dinsos untuk digunakan masyarakat melakukan kegiatan ekonomi.

"Perahu karet harusnya kita tambah ke lokasi bencana hingga akses jalan ini sudah membaik. Apalagi, puluhan anak sekolah setiap harinya harus menyeberang sungai,"ujar gubernur.

Gubernur menambahkan, program jangka panjang akan dipikirkan dengan membangun jembatan permanen tanpa harus memanfaatkan jembatan gantung.

"Jembatan gantung sudah tak cocok dibangun di dusun ini seiring jumlah penduduk di dusun Sangkurio semakin meningkat," katanya.(Iwn/Ant)

Senin, 07 Mei 2012

SEJARAH TERBENTUKNYA SULAWESI BARAT

SEJARAH TERBENTUKNYA SULAWESI BARAT
Nama Resmi : Provinsi Sulawesi Barat
Ibukota Provinsi : Kabupaten Mamuju
Luas Wilayah : 16.787,18 Km2 *)
Jumlah Penduduk : 1.050.928 Jiwa *)
Suku Bangsa : Mandar (49,15%), Toraja (13,95%), Bugis (10,79%), Jawa (5,38%), Makassar (1,59%) dan lainnya (19,15%).
Batas Wilayah : Bujur Timur, yang berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Tengah di sebelah utara dan selat Makassar si sebelah barat. Batas sebelah selatan dan timur adalah propinsi Sulawesi Selatan.
Wilayah Administrasi : Kab.: 5, Kota : -, Kec.: 55, Kel.: 48, Desa : 402 *)

Website : http://www.sulbarprov.go.id/

*) Sumber : Permendagri Nomor 6 Tahun 2008
Sejarah

Bertolak dari semangat "Allamungan Batu di Luyo" yang mengikat Mandar dalam perserikatan "Pitu Ba'bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu" dalam sebuah muktamar yang melahirkan "Sipamandar" (saling memperkuat) untuk bekerja sama dalam membangun Mandar, dari semangat inilah maka sekitar tahun 1960 oleh tokoh masyarakat Manda yang ada di Makassar yaitu antara lain : H. A. Depu, Abd. Rahman Tamma, Kapten Amir, H. A. Malik, Baharuddin Lopa, SH. dan Abd. Rauf mencetuskan ide pendirian Provinsi Mandar bertempat di rumah Kapten Amir, dan setelah Sulawesi Tenggara memisahkan diri dari Provinsi Induk yang saat itu bernama Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra).

Ide pembentukan Provinsi Mandar diubah menjadi rencana pembentukan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dan ini tercetus di rumah H. A. Depu di Jl. Sawerigading No. 2 Makassar, kemudian sekitar tahun 1961 dideklarasikan di Bioskop Istana (Plaza) Jl. Sultan Hasanuddin Makassar dan perjuangan tetap dilanjutkan sampai pada masa Orde Baru perjuangan tetap berjalan namun selalu menemui jalan buntu yang akhirnya perjuangan ini seakan dipeti-es-kan sampai pada masa Reformasi barulah perjuangan ini kembali diupayakan oleh tokoh masyarakat Mandar sebagai pelanjut perjuangan generasi lalu yang diantara pencetus awal hanya H. A. Malik yang masih hidup, namun juga telah wafat dalam perjalanan perjuangan dan pada tahun 2000 yang lalu dideklarasikan di Taman Makam Pahlawan Korban 40.000 jiwa di Galung Lombok kemudian dilanjutkan dengan Kongres I Sulawesi Barat yang pelaksanaannya diadakan di Majene dengan mendapat persetujuan dan dukungan dari Bupati dan Ketua DPRD Kab. Mamuju, Kab. Majene dan Kab. Polmas.

Tuntutan memisahkan diri dari Sulsel sebagaiman diatas sudah dimulai masyarakat di wilayah Eks Afdeling Mandar sejak sebelum Indonesia merdeka. Setelah era reformasi dan disahkannya UU Nomor 22 Tahun 1999 kemudian menggelorakan kembali perjuangan masyarakat di tiga kabupaten, yakni Polewali Mamasa, Majene, dan Mamuju untuk menjadi provinsi.

Sejak tahun 2005, tiga kabupaten (Majene, Mamuju dan Polewali-Mamasa) resmi terpisah dari Propinsi Sulawesi Selatan menjadi Propinsi Sulawesi Barat, dengan ibukota Propinsi di kota Mamuju. Selanjutnya, Kabupaten Polewali-Mamasa juga dimekarkan menjadi dua kabupaten terpisah (Kabupaten Polewali dan Kabupaten Mamasa).

Untuk jangka waktu cukup lama, daerah ini sempat menjadi salah satu daerah yang paling terisolir atau ‘yang terlupakan’ di Sulawesi Selatan.

Ada beberapa faktor penyebabnya, antara lain, yang terpenting:

Jaraknya yang cukup jauh dari ibukota propinsi (Makassar);

kondisi geografisnya yang bergunung-gunung dengan prasarana jalan yang buruk;

mayoritas penduduknya (etnis Mandar, dan beberapa kelompok sub-etnik kecil lainnya) yang lebih egaliter, sehingga sering berbeda sikap dengan kelompok etnis mayoritas dan dominan (Bugis dan Makassar) yang lebih hierarkis (atau bahkan feodal) – pada awal tahun 1960an, sekelompok intelektual muda Mandar pimpinan almarhum Baharuddin Lopa (Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, 1999-2000, dan sempat menjadi ‘aikon nasional’ gerakan anti korupsi karena kejujurannya yang sangat terkenal) melayangkan ‘Risalah Demokrasi’ menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap beberapa kebijakan politik Jakarta dan Makassar; serta

Fakta sejarah daerah ini sempat menjadi pangkalan utama ‘tentara pembelot’ (Batalion 310 pimpinan Kolonel Andi Selle), pada tahun 1950-60an, yang kecewa terhadap beberapa kebijakan pemerintah dan kemudian melakukan perlawanan bersenjata terhadap Tentara Nasional Indonesia (TNI); selain sebagai daerah lintas-gunung dan hutan –untuk memperoleh pasokan senjata selundupan melalui Selat Makassar- oleh gerilyawan Darul Islam (DI) pimpinan Kahar Muzakkar yang berbasis utama di Kabupaten Luwu dan Kabupaten Enrekang di sebelah timurnya.

Pembentukan daerah kabupaten baru di wilayah sulawesi barat masih dalam proses dan dalam prosesnya masih sering diiringi oleh permasalahan-permasalahan yang merupakan efek penyatuan pendapat yang belum memiliki titik temu.

Nilai Budaya

Penduduk Sulawesi Barat berdasarkan hasil survei Sosial dan Ekonomi Nasional (SUSENAS) Tahun 2006 berjumlah 992.656 jiwa yang tersebar di 5 kabupaten, dengan jumlah penduduk terbesar yakni 356.391 jiwa mendiami Kabupaten Polewali Mandar.

Secara keseluruhan jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin perempuan, hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih besar dari jumlah penduduk perempuan

Angkatan kerja, Penduduk Usia Kerja (PUK) didefenisikan sebagai penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. Penduduk usia kerja terdiri dari Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan, sedangkan bukan angkatan kerja adalah mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan lainnya.

Penduduk usia kerja di daerah Sulawesi Barat pada tahun 2006 berjumlah 751.180 jiwa. Dari seluruh penduduk usia kerja yang masuk menjadi angkatan kerja berjumlah 444.324 jiwa atau lebih dari 50 persen dari seluruh Penduduk Usia Kerja.

Dari seluruh angkatan kerja yang berjumlah 444.324 jiwa tercatat bahwa 53.215 orang dalam status mencari pekerjaan. dari angka tersebut dapat dihitung tingkat pengangguran terbuka di Sulawesi Barat pada tahun 2006, yakni sebesar 11,98 persen. angka ini merupakan rasio antara pencari pekerjaan dan jumlah angkatan kerja.

Dilihat dari segi lapangan usaha, sebagian besar penduduk Sulawesi Barat bekerja pada sektor pertanian yang berjumlah 276.299 orang atau 70,64 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. Sektor lainnya yang juga menyerap tenaga kerja cukup besar adalah sektor perdagangan dan jasa-jasa.

Potensi pariwisata Cukup menjanjikan akan tetapi belum dikelola dengan baik secara optimal sehingga belum dapat hasil yang lebih nyata terhadap pemasukan devisa bagi daerah meski demikian, gunakan memperkenalkan pariwisata kepada masyarakat indonesia bahkan ke dunia internasional, pemerintah SulBar menyiapkan berbagai upaya berupa promosi-promosi di media cetak maupun elektronik untuk memperkenalkan pariwisata ke dunia luar.

Akan disiapkan sarana dan prasarana, akomodasi berupa hotel yang memadai serta transportasi dari dan ke obyek wisata yang ada,

Obyek Wisata Alam di Prov Sulbar antara lain :
- Anjoro Pitu
- Air panas
- Sumur Jodoh di pulau karampuang

Obyek wisata bahari antara lain :
- Pasir Putih di Kab Polman
- Air terjun Mata sapi di mamuju
- Taman Laut Pulau Karampuang dan kepulauan bala-balakang
- Permandian airpanas di Kalumpang, tapandulu dan aralle di mamasa

Tamasya Budaya
- Rumah adat mamuju
- Padi Tammanurung Kalumpang
- Kayu Ebodi Raksasa di Kaluku

Potensi Agro wisata
- Aneka ragam Flora Fauna

Potensi Tarian Daerah antara lain seperti rincian di bawah ini :

1. Tari Bamba Manurung
2. Tari Ma Bundu
3. Tari Motaro
4. Tari Bulu Londong
5. Tari Tuduq Mandar Pembolongatta
6. Tari Tuduq Kumba
7. Tari Dego Pallaga
8. Tari PaJinang

Kelapa Tujuh - Air Panas
Pulau Karampuang